Air untuk Kehidupan, Sepercik Harapan untuk Kekeringan di Gunungkidul

Kekeringan di Gunungkidul, tahun ini akan lebih lama dibandingkan daerah lain. Musim kemarau diprediksi oleh BPBD sampai pertengahan Oktober mendatang.

Image result for air untuk kehidupan dompet dhuafa

Warga desa Karangawen, Kecamatan Girisubo yang harus berjalan kaki sejauh 1,5 km hingga 3 km untuk mengambil sisa air telaga yang mulai mengering di Telaga karang wetan.

Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, warga mengambil air untuk memenuhi kebutuhan minum ternak.

Dengan menggunakan jerigen berkapasitas sekitar 25 liter air, mereka memikul jeriken tersebut ke rumah atau kandang ternak yang terletak di kawasan perbukitan.

“Dalam sehari kami bolak-balik sampai empat kali, untuk mengambil air dari telaga, untuk keperluan minum, mandi, dan memberi minum ternak kami,” ujar Parsilan (53), warga desa Karangawen, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul.

Sudah sejak dua bulan terakhir ini, atau sebelum bulan puasa, warga desa Karangawen, Kecamatan Girisubo, mengambil air dari telaga tersebut, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan juga minum ternak.

Jika masih kekurangan warga pun harus membeli dari tangki dengan harga Rp 150.000 per tangki.

Jumlah itu hanya cukup untuk kebutuhan selama seminggu dan dua minggu pemakaian.

“Salah satu aset kami ya ternak itu, mereka juga butuh minum,”ucapnya.
Sementara itu, Kepala desa Karangawen, Roji Suyanta, membenarkan, jika warganya kerap menggunakan telaga itu untuk memenuhi kebutuhan air sehari-harinya.
Namun kondisi telaga tersebut semakin kering memasuki musim kemarau.
“Air telaga kondisinya ya seperti ini, sudah keruh dan tinggal separuh saat masuk kemarau ini, terlebih ketika setiap hari diambil terus meneru,” kata Roji.
Roji mengatakan, warga terpaksa mengambil air telaga yang mulai keruh karena tak ada sumber mata air yang memadai di lokasi tersebut.
Pipa air bersih yang sudah puluhan tahun dipasang pemerintah tak pernah keluar airnya.
“Pipa pdam sudah lama ada tetapi mulai pipa ada sampai hari ini belum pernah keluar air,” ujarnya.
Dia pun berharap pemerintah dapat bergerak cepat untuk mengatasi masalah kekurangan air yang tak hanya melanda wilayahnya.
“Kami sangat berharap ada bantuan dari pemerintah, untuk air bersih ini, hal ini sangat pokok untuk kebutuhan kami,” ujarnya.

Dengan harga berkisar Rp. 200.000 – Rp. 300.000 per tangki air, dibutuhkan setidaknya 1680 tangki air untuk melewati musim kemarau tahun 2017 bagi 1344 Jiwa warga di 4 Kecamatan di Gunungkidul, yakni Kec. Purwosari, Kec. Saptosari, Kec. Panggang, Kec. Semanu.

mari membantu warga yang kesulitan untuk mendapatkan air bersih, karena kesempatan kita yang kita rasakan saat ini belum tentu akan kita nikmati esok hari. Berbagi di sini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons