Apa Itu Zakat Fitrah?

Kata fitrah dalam kata zakat fitrah telah menjadi serapan dalam bahasa Indonesia. Kata fitrah ini berasal dari kata al-fithrah atau lebih tepatnya para ulama menggunakan kata zakat al-fithri.

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari-nya, zakat fitrah disebut juga zakat al-fithri atau shadaqah al-fithri.

Kata al-fithri di sini bermakna filosofis akar katanya ifthar artinya berbuka atau tidak berpuasa. Maksudnya kembali kepada makna berbuka dari puasa Ramadan karena kewajiban tersebut ada setelah menunaikan puasa Ramadan.

Imam Nawawi menyebut harta yang dikeluarkan untuk zakat al-fithri ini disebut fithrah. Tetapi, jumhur ulama lebih sepakat polpuler dengan menyebutnya zakat al-fithri.

Ada juga yang berpendapat bahwa kata fitrah sendiri yaitu asal usul penciptaan jiwa (manusia) sehingga wajib atas tiap jiwa. Jika kedua kata itu digabungkan maka zakat fitrah berarti zakat jiwa yang diambil dari kata fitrah. Sementara mengenai waktunya, zakat fitrah merupakan zakat yang dikeluarkan pada akhir bulan Ramadan sebagai penyempurna ibadah puasa Ramadan

Dalil Zakat Fitrah

  1. … Dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” (Q.S. an-Nisa: 77).
  2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan salat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati,” (Q.S. al-Baqarah: 277).
  3. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Q.S. at-Taubah: 103).
  4. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad bin as-Sakkan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Jahdham telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far dari ‘Umar bin Nafi’ dari bapaknya dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitri satu sha’ dari kurma atau sha’ dari gandum bagi setiap hamba sahaya (budak) maupun yang merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar dari kaum Muslimin. Dan Beliau memerintahkan agar menunaikannya sebelum orang-orang berangkat untuk salat (‘Ied),” (H.R. Bukhari – 1407).
  5. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Maisarah telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhu bahwa Nabi saw. memerintahkan (untuk menunaikan) zakat fitri sebelum orang-orang keluar untuk salat (‘Ied),” (H.R. Bukhari – 1413).
  6. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Zaid bin Aslam dari Iyadl bin Abdullah bin Sa’d bin Abu Sarh bahwa ia mendengar Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Kami membayar zakat fitri berupa satu sha’ gandum atau kurma atau satu sha’ keju atau anggur kering,” (H.R. Muslim – 1640).

 

Hukum Zakat Fitrah
Hukum zakat fitrah adalah wajib. Ini pendapat yang terkuat dan merupakan pendapat jumhur ulama, misalnya Abu al-‘Aliyah, Atha’, dan Ibnu Sirrin sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Bukhari. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Syarah Shahih Bukhari-nya dan Ishaq bin Rahuyah dalam Syarah Shahih Muslim-nya juga mengatakan wajibnya zakat fitrah ini. Di lain pihak, ada juga yang berpendapat bahwa hukum zakat fitrah ini adalah sunnah muakkad. Ada pula yang berpendapat bahwa zakat fitrah hanya sebuah amal kebaikan, yang dahulu diwajibkan tetapi kemudian itu dihapuskan. Pendapat itu lemah karena hadis yang dipakai dha’if secara sanad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons