Cara Menjaga Kualitas Hewan Ternak Kurban

Berkurban melalui Dompet Dhuafa memiliki nilai lebih dibanding kita berkurban seperti biasa. General Manager Program Pengembangan Sosial Dompet Dhuafa Filantropi, Beni, mengatakan, berkurban melalui THK ibarat sekali mendayung dua pulau terlampaui. “Dengan berkurban melalui THK Dompet Dhuafa, masyarakat juga memberdayakan peternak dan kaum dhuafa,” ujar Benny.

Para peternak adalah kaum dhuafa yang dibina dan didampingi agar menjadi peternak unggul. Mereka dibekali modal dan hewan ternak untuk menopang ekonomi mereka. Mereka pun diberi semangat dengan jaminan pemasaran dan pembelian di musim hari raya kurban dengan syarat hewan ternaknya memenuhi standar yang ditentukan. Karena secara otomatis mereka menjadi mitra pemasok hewan kurban bagi Dompet Dhuafa.

 

Dengan jaminan pemasaran dan pembelian itu, para mitra akan terus berkembang. Ekonominya pun akan membaik. “Langkah itu diharapkan juga bisa bergulir serta menginspirasi saudara muslim lainnya yang masih belum punya pekerjaan dan terbelenggu kekurangan, untuk menjadi mitra THK selanjutnya. Hal ini akan terus menggelinding seperti bola salju,” jelas Beni.

 

Saat ini, sedikitnya ada 1.675 peternak yang menjadi mitra dalam program THK Dompet Dhuafa. Mereka tergabung ke dalam 67 kelompok ternak. Dari seluruh mitra itu, 60 persennya adalah peternak kecil yang selama ini dibina Dompet Dhuafa. Dengan demikian, nilai transaksi kurban yang sangat besar itu bisa dirasakan oleh peternak-peternak gurem yang selama ini hidup di desa-desa.

 

Sekedar gambaran, tahun ini Dompet Dhuafa menargetkan dapat menghimpun 25 ribu pekurban. Jika rata-rata harga kambing dipatok sebesar Rp2.000.000 (sudah termasuk ongkos dan operasional), maka transaksi yang berputar saat Idul Adha, khusus melalui Dompet Dhuafa sebesar Rp 50 miliar. Nilai transaksi itu sebagian besarnya dinikmati oleh peternak-peternak gurem tadi.

Keberadaan mitra di hampir seluruh provinsi ini juga menjadi “rahasia” Dompet Dhuafa bisa menyebarkan kurban ke berbagai pelosok Nusantara dalam waktu singkat. Karena memang selama ini, sasaran pemberdayaan program peternakan Dompet Dhuafa ada di desa-desa. Oleh karenanya, tak heran saat hari tasyrik pun Dompet Dhuafa masih melayani pekurban yang dagingnya ingin disalurkan di daerah.

Daerah-daerah yang menjadi sasaran pembagian kurban ialah daerah tertinggal, wilayah pemberdayaan Dompet Dhuafa, marjinal, pedalaman, lokasi bencana alam, terjadi krisis kemanusiaan dan kawasan yang ditinggali muslim minoritas. Untuk tahun ini target pendistribusian paling jauh adalah ke Wasior Papua.

Meski hewan kurban yang disediakan Dompet Dhuafa dikelola peternak kecil di desa, bukan berarti hewannya tidak berkualitas. Dompet Dhuafa menetapkan standar yang tinggi untuk menjaga kualitas hewan kurban. Tim Pengendali Mutu / Quality Control (QC) yang dibentuk Dompet Dhuafa selalu melakukan uji kualitas secara berkala terhadap hewan-hewan yang hendak dikurbankan.

 

Bahkan, tak jarang tim QC harus menembus jalan terjal untuk mencapai kandang ternak di pelosok Nusantara. Mereka menyebar ke berbagai wilayah di Pulau Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Kalimantan dan berbagai wilayah lain di Indonesia.

 

Di wilayah sebaran, poin utama QC bertugas adalah memastikan ketersediaan stok hewan ternak yang akan dikurbankan. Selanjutnya, mereka juga harus memastikan kualitas hewan agar memenuhi syarat dan ketentuan syariat. Proses QC ini merupakan bagian dari upaya Dompet Dhuafa dalam menjaga amanah dari para pekurban.

 

“Proses QC pertama dilakukan untuk memastikan semua mitra apakah telah menyediakan hewan ternak sesuai dengan kuota mereka masing-masing. Jika pada saat QC pertama dilakukan masih ada mitra yang belum menyediakan seratus persen jumlah ternak, maka akan dilakukan pengurangan kuota sesuai jumlah kekurangannya. Kemudian pada tahapan kedua, merupakan yang paling krusial. Dimana seluruh hewan ternak sudah harus memenuhi ketentuan bobot. Sehingga nantinya pada saat penyembelihan, tidak ada upaya manipulasi dari bobot ternak itu sendiri,” jelas Benny.

 

Tim QC sedikitnya melakukan dua kali kunjungan ke kandang atau sentra ternak sebelum pelaksanaan kurban. Kunjungan pertama dilakukan 3 bulan sebelum Idul Adha. Adapun kunjungan kedua dilakukan dilakukan 2 pekan sebelum pelaksanaan kurban.

 

Pada QC pertama, untuk bobot kambing (kelas reguler) harus mencapai 17-18 kg.  Sedangkan pada kunjungan kedua, bobot kambing minimal sudah mencapai 22,5 kg. Saat pelaksanaan kurban pun, Dompet Dhuafa juga mengirimkan tim monitoring agar pelaksanaan kurban dijalankan dengan semestinya. Para pekurban juga akan mendapatkan laporan dan bukti pemotongan berupa foto sebagai pertanggungjawaban.

 

Semua kegiatan THK Dompet Dhuafa diawasi oleh dinas peternakan setempat dan juga didukung oleh tim QC yang berpengalaman. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir untuk menyalurkan kurban melalui Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa. [Aditya Kurniawan-Amirul Hasan]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons